From NOTHING To Be SOMETHING...After Be SOMETHING Don't To Be THE IMPORTANT THING...Keep Moving And Keep PRAYING...
Hello Guest...
Keeping track of Web page access
Keeping track of Web page access
Adsense Leaderboard
Apakah Perkataan Anda Menyakiti Pasangan ?
“Mulutmu harimaumu.” Begitu bunyi sebuah iklan komersial di televisi nasional pada tahun 2007. Maksudnya jelas, mulut adalah sumber bencana bagi seseorang jika tidak tepat menggunakannya. Asal bicara bisa berbahaya. Anda bisa menipu, berbohong, dan memfitnah dengan mulut Anda. Orang bisa tersinggung, marah, sakit hati, dan benci pada Anda karena perkataan Anda. Jadi, berhati-hatilah dengan bicara Anda.
ImageSalah satu masalah umum yang paling banyak dilaporkan dalam hubungan adalah sakit hati. Mereka sakit hati bukan karena diselingkuhi, tapi karena perkataan pasangan yang menyakitkan mereka. Ironisnya, pasangan mereka tidak menyadari perkataannya telah menimbulkan sakit hati. Artikel ini akan membantu Anda untuk mengetahui apakah secara verbal (perkataan) Anda mudah menyakiti pasangan.
Menyakiti pasangan melalui perkataan biasa disebut sebagai kekerasan verbal. Bentuknya macam-macam. Dari mulai merendahkan kemampuan pasangan (misalnya “Dasar goblok. Apa sih, yang kamu bisa!”), menghina pribadi (misalnya “Salah apa aku punya pasangan penakut macam kamu!”), mengancam (misalnya “Aku pastikan kita bubaran kalau kamu tidak mau berhenti kerja”), sampai mengkritik secara negatif (misalnya “pakaianmu itu norak, mau melacur?”). Bahkan “mendiamkan” pasangan bisa digolongkan melakukan tindak kekerasan jika hal tersebut membuat pasangan sakit hati karena merasa diabaikan.
Secara keseluruhan, kekerasan verbal terjadi sebagai wujud kurangnya keterbukaan, kurangnya empati, kurangnya dukungan, kurangnya hal-hal positif, dan kurangnya kesetaraan antar pasangan. Berikut adalah bentuk-bentuk kekerasan verbal antar pasangan. Coba Anda perhatikan baik-baik, mungkin Anda pernah melakukan salah satunya.
1. Kurangnya keterbukaan Menolak untuk menyatakan perasaan yang dialami dengan diam seribu bahasa Contoh : Anda hanya diam saat Anda marah Anda diam saja ketika Anda tidak suka perilaku pasangan.
Menolak untuk mengakui adanya masalah ketika diamnya dipertanyakan Contoh : “Aku hanya ingin diam.” “Tidak ada yang salah. Ada kalanya seseorang hanya ingin diam.”
Mencegah pasangan untuk menyatakan perasaannya dan melakukan tukar pikiran dan perasaan secara seimbang Contoh : “Ayolah, jangan berlebihan begitu. Yang sewajarnya saja.” “Tidak bisakah kamu berhenti mengatakan apa yang kamu rasakan?”
Menghindari tanggung jawab atas pikiran dan perasaannya sendiri dan menyatakannya sebagai milik orang lain. Contoh : “Tidak ada yang suka kamu memakai baju itu” (Anda yang tidak suka) “Semua suka jika kamu berhenti kerja” (Anda yang ingin dia berhenti kerja)
2. Kurangnya empati Terganggu oleh ketidaksetujuan pasangan atas sikap dan keyakinan yang dimiliki Contoh : “Bagaimana mungkin kamu mengatakan itu padaku?” “Jadi, kamu tidak setuju denganku. Kamu pasti bercanda!”
Menolak untuk mengakui mengerti komunikasi yang disampaikan pasangan Contoh : “Aku gak ngerti apa maksudmu” (sebenarnya Anda mengerti) “Apa sih yang kamu bicarakan.” (sebenarnya Anda tahu maksudnya)
Menolak untuk mengakui perasaan pasangan yang sebenarnya Contoh : “Dasar kamu cerewet saja. Semuanya jadi masalah buatmu.” “Kamu memang bodoh. Hanya kehilangan barang saja sedih sekali.”
Fokus semata-mata pada apa yang dikatakan pasangan dan mengabaikan pesan yang tersembunyi didalamnya Contoh : “Kamu bilang kamu mau pergi. Jadi pergilah!” (padahal dia ingin ditemani) “Sesuai katamu, aku harus pergi.” (padahal dia ingin agar Anda tidak pergi)
Menghindari untuk mengecek kembali pikiran Anda mengenai apa yang dirasakan pasangan Contoh : “Sudahlah, aku tahu kamu pemarah. Kamu hanya sedang marah sekarang.” “Aku tahu kamu sedang sedih. Tapi sudahlah.”
3. Kurangnya dukungan Menghakimi prestasi pasangan Contoh : “Kuharap ini lebih baik dari yang sudah-sudah.” “Sebegitu saja hasilmu. Bisakah lebih baik dari yang dicapai temanmu?”
Mengkritik kekurangan pasangan Contoh : “Kamu penakut sekali menghadapi setiap permasalahan.” “Kamu pemalu banget. Cuma ketemu teman-temanku saja kamu malu.”
Menyatakan bahwa posisinya sudah final dan tidak akan berubah. Contoh : “Saya sudah bilang tidak pergi. Jadi saya tidak akan pergi bersamamu.” “Kamu tidak boleh kerja. Itu sudah kukatakan berulang kali padamu.”
Berasumsi pasangan adalah pihak yang salah jika terjadi sesuatu yang tidak benar Contoh : “Ini pasti salahmu karena kamu tidak mau mendengarkanku.” “Siapa lagi yang salah kalau bukan kamu.”
Berasumsi pasangan akan gagal sebelum mencoba sesuatu Contoh : “Sudahlah, kamu tidak akan bisa. Pekerjaan itu terlalu berat buatmu.” “Aku yakin kamu akan gagal jika memaksakan diri melakukannya.”
4. Kurangnya hal-hal positif Menekankan hal-hal negatif dalam hubungan dan perilaku pasangan yang negatif Contoh : “Kamu terlalu berlebihan. Cuma dapat undian saja kayak dapat surga.” “Kita banyak mengalami kesulitan sejak kita menikah.”
Menolak untuk memuji pasangan meskipun telah berhasil dalam sesuatu hal Contoh : “Yah, biasa saja tuh. Semua orang juga bisa seperti kamu.” “Kamu hanya beruntung saja!”
Menyalahkan pasangan atas kesulitan yang datang Contoh : “Ini semua salahmu. Kamu kehabisan uang karena kamu terlalu boros!” “Kerja ini tidak selesai tepat waktu karena kamu selalu menggangguku”
Memanggil nama pasangan dengan nama-nama julukan yang merendahkan Contoh : “Hei, tulang. Ayo kita cari makan.” (Karena sangat kurus) “Hei, jelek. Jalan-jalan yuk.” (Karena kurang cantik atau kurang tampan)
Bertindak bertentangan dengan yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan pasangan Contoh : “Kamu takut ketinggian? Besok kita naik ke Monas!” “Ayo tertawalah, gitu saja sedih banget. Kanak-kanak banget sih!”
5. Kurangnya kesetaraan Menekankan superioritas Anda pada pasangan Contoh : “Kamu itu diajari tidak pernah bisa. Aku kerjakan saja!” “Lihat, sudah selesai. Cuma masalah kecil begini saja kamu tak bisa”
Menginterupsi pembicaraan pasangan untuk memaksakan pendapat sendiri. Contoh : “Sudahlah tidak perlu dilanjutkan. Yang benar, kamu itu terlalu sensitif.” “Tunggu, kamu keliru. Yang sebetulnya terjadi, kamu hanya sedang bete.”
Menolak untuk mengakui pikiran pasangan memiliki arti atau bernilai Contoh : “Pendapatmu lucu. Anak kecil saja tidak akan bicara begitu.” “ Kamu bicara soal politik? Yang benar saja!”
Memberikan ultimatum untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan Contoh : “Kalau kamu melarangku pergi, kita putus sekalian saja!” “Ganti baju ya, kalau tidak, kita tak usah pergi saja!”
Memberikan perintah daripada mengajukan permintaan Contoh : “Antar aku ke supermarket sekarang!”, “Masak sop saja. Aku gak suka masakanmu yang lain !”,
Secara umum, jika seseorang menderita kekerasan verbal, mereka akan kesulitan dalam membentuk citra diri yang positif. Mereka merasa tidak kompeten karena kemampuannya direndahkan. Mereka merasa tidak menarik dan tidak percaya diri dengan fisik dan penampilan karena fisik dan penampilannnya diejek. Mereka merasa rendah diri untuk bergaul karena kemampuan bergaulnya selalu diolok-olok. Mereka rendah diri dengan kecerdasannya, karena sering dihina goblok. Mereka merasa memiliki masalah emosional yang gawat, karena kondisi emosinya sering dikritik (misalnya “Dasar cemburuan!” atau “Kamu itu penakut banget!”). Mereka merasa menjadi orang gagal dan tidak pernah sukses karena keberhasilannya selalu dipandang negatif oleh pasangan. Pendek kata, mereka menjadi rendah diri dan tidak percaya diri. Mereka merasa dirinya negatif.
Penelitian menunjukkan bahwa dampak kekerasan verbal biasanya jauh lebih dalam dan lebih permanen ketimbang kekerasan fisik. Cedera pemukulan akan segera sembuh. Tapi runtuhnya kepercayaan diri karena dihina bisa berlangsung seumur hidup. Diketahui juga bahwa hubungan yang diwarnai kekerasan verbal merupakan bentuk hubungan yang tidak sehat dan tidak membahagiakan. Jadi, hanya satu kata untuk kekerasan verbal, “hentikan!”
Apabila Anda telah mencermati bentuk-bentuk kekerasan verbal di atas, maka Anda sudah bisa mengira-ngira apakah diri Anda melakukan kekerasan verbal atau tidak. Sebagai tambahan, berikut adalah kuis untuk mengetahui apakah diri Anda merupakan pelaku kekerasan verbal atau tidak. Lingkari A atau B, sesuai gambaran yang paling tepat dengan diri Anda.
Dalam berinteraksi dengan pasangan saya, secara umum saya lebih mungkin untuk : 1. A. Mengungkapkan perasaan saya B. Menyembunyikan perasaan saya 2. A. Mendengarkan dan mendorong pasangan saya untuk mengekspresikan perasaannya B. Mencegah ekspresi perasaan 3. A. Terganggu ketika perasaan, sikap, dan keyakinan pasangan saya berbeda dari saya B. Mencoba memahami perasaan, sikap, dan keyakinan pasangan saya yang berbeda. 4. A. Berasumsi bahwa pasangan saya tahu kalau saya mengerti apa yang dia katakan B. Mengatakan pada pasangan saya apa yang dia katakan menurut sudut pandangnya 5. A. Menilai dan mungkin mengkritik kegagalan atau kekurangan pasangan saya B. Menunjukkan dukungan pada pasangan saya ketika dia gagal atau kurang sukses 6. A. Menyatakan posisi atau penafsiran saya atas sesuatu hal sebagai kepastian B. Menyatakan posisi atau penafsiran saya atau sesuatu hal sebagai kemungkinan 7. A. Menekankan hal-hal positif dalam hubungan dan interaksi kami B. Menekankan hal-hal negatif dalam hubungan dan interaksi kami 8. A. Jarang memuji pasangan saya (sudah bagus sekali sehari) B. Sering memuji pasangan saya (minimal 3-4 kali sehari) 9. A. Menekankankan pada superioritas kemampuan dan pengetahuan saya B. Menekankan pada pasangan saya dan kesetaraan kami 10. A. Berbicara lebih banyak daripada mendengarkan B. Berbicara dan mendengarkan secara seimbang.
Penilaian Respon A pada nomor 3, 4, 5, 6, 9, dan 10, serta respon B pada nomor 1, 2, 7, dan 8, menunjukkan kekerasan verbal. Berilah nilai 1 untuk setiap respon Anda yang menunjukkan kekerasan verbal. Jika skor Anda 5 atau lebih tinggi, maka ada indikasi bahwa Anda adalah pelaku kekerasan verbal. Perkataan Anda cenderung menyakiti pasangan.
*Diadaptasi dari DeVito (1997), The Interpersonal Communication Book,7th ed. Harper CollinsCollegePublisher, New York.